Jalan Braga di pusat Kota Bandung, Jawa Barat, pernah dianalogikan dengan catwalk, papan tempat para model berlenggak-lenggok. Dulu, jalan itu memang trendsetter. Mau melihat pakaian yang sedang tren, lihatlah sandang yang dikenakan kaum muda yang hilir-mudik di Jl Braga. Tapi, semua itu seolah tinggal kenangan.Saat ini, Braga seperti hidup segan, mati tak mau. Toko-tokonya masih buka, tapi dalam kondisi sekarat. Siang hari di Braga kini lengang. Jangankan warga Bandung, warga Jakarta yang setiap akhir pekan berbondong-bondong ke Parijs Van Java, seolah tak melirik Braga kendati lokasinya tak jauh dari Alun-alun kota Bandung ini.
Pekan lalu, Republika mendatangi beberapa toko di Jl Braga. Saat itu pukul 11.00 WIB, saat yang seharusnya sedang ramai. Tapi, toko-toko di sana malah menutup pintu. Di sebuah toko di Jl Braga No 88, Republika mencoba memencet bel yang berada di samping rolling door. Tak lama kemudian, terdengar langkah bergegas pemilik toko. Sedikit basa-basi, pemilik toko mempersilakan masuk. Sejumlah porselen yang biasa dijadikan suvenir, masih berjejer di etalase. Tapi, pemiliknya mengatakan toko tersebut sudah tutup.